Rabu, 23 Maret 2011

Akar Pemberontakan Macan Tamil



Judul: Auman Terakhir Macan Tamil
Penulis : Yoki Rakaryan Sukarjaputra
Penerbit: Penerbit Buku Kompas
Terbit: I, Agustus 2010
Halaman: xxviii + 203 Halaman
Harga: Rp. 42.000

Gerakan-gerakan di Indoneisa yang dipicu oleh tindak ketidakadilan, harus diwaspadai. Pasalnya, hal itu dapat memicu persoalan yang lebih besar, mulai dari perang saudara hingga pemberontakan berbiaya sosial tinggi.

Pelajaran berharga dapat diambil dari pemberontakan Macan Tamil di Sri Lanka. Seperti yang dipaparkan dalam buku Auman Terakhir Macan Tamil ini, perang sipil yang terjadi di Sri Lanka dipicu oleh ketidakpuasan atas kebijakan diskrimantif terhadap kelompok etnis Tamil.

Perlakuan tidak seimbang yang dilakukan secara sistemik oleh rejim penguasa, terakumulasi sedemikian rupa, sehingga bermetamorfrosa menjadi gerakan perlawanan yang sulit dibendung. Perlawanan tersebut sering bermuara pada pertumpahan darah yang merugikan banyak pihak.

Buku ini secara umum mengajak pembaca untuk melihat fakta historis akar masalah terjadinya pemberontakan Macan Tamil di Sri Lanka. Akar masalah tersebut adalah ketidakpuasan etnis Tamil dari India yang berada di Sri Lanka.

Semua itu bermula ketika Sri Lanka yang masih bernama Ceylon masih dipegang oleh pemerintah kolonial yang sempat hadir di sana, yakni Portugis, Belanda dan kemudian Inggris. Saat itu Ceylon dihuni oleh warga etnis Sinhala, Tamil dan Moor.

Konflik antar etnis yang sudah sering terjadi itu diperburuk oleh Inggris yang membuka kawasan perkebunan di Ceylon. Ketika itu, Inggris dianggap diskriminatif karena lebih banyak memberikan “kenyamanan’ kepada kelompok yang tidak banyak "membuat persoalan", yakni etnis Sinhala.

Inilah yang memicu rasa tidak puas warga etnis Tamil. Akhirnya, pada tahun 1939 pecah pertikaian antara warga Tamil dan Sinhala. Sejak itu, gesekan antara kedua kelompok tersebut kian menjadi-jadi. Hal ini diperburuk dengan kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah Sri Lanka pasca kemerdekaan.

Kebijakan itu antara lain menjadikan bahasa Sinhala menjadi bahasa resmi di Sri Lanka. Kemudian dikeluarkannya aturan darurat yang memperbolehkan polisi mengubur atau mengkremasi mayat tanpa otopsi terelebih dahulu.

Peraturan darurat itu keluar menyusul tewasnya seorang pemuda Tamil saat ditahan tanpa dakwaan dalam penjara polisi. Anehnya, pihak kejaksaan di Jaffna menyatakan pemuda itu korban bunuh diri. Padahal, beberapa luka bekas tusukan didapati di tubuhnya.

Buku ini juga menunjukkan fakta mengenai adanya usaha pembantaian terhadap etnis Tamil yang dilakukan secara sistematis oleh kelompok Sinhala. Namun diingatkan, kejadian bukanlah tindakan spontan, namun diatur dan direncakan oleh kekuatan tertentu.

Perlawanan macan Tamil mungkin sudah surut, menyusul tewasanya Velupillai Prabhakaran sang pemimpin. Namun itu tidak berarti perlawanan Macan Tamil secara ideologis mati. Selama penguasa dan kelompok mayoritas memperlakukan kelompok kecil secara diskriminatif, sesungguhnya sumbu perlawanan itu masih menyala.

Kita kira, hal semacam inilah yang harus diwaspai di Indonesia. Perlakuan semena-mena terhadap kelompok minoritas, baik secara langsung maupun lewat legalitas kebijakan, sangat potensial menyulut gesekan, baik secara vertikal maupun horisontal. Jadi, waspadai saja.***



Di Kutip Dari klik di sini



Jejak Spionase Internasional di Indonesia

Judul : Namaku Matahari
Penulis : Remy Sylado
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Terbit : I, Oktober 2010
Halaman : 559
Harga : Rp. 79.000

Meskipun sudah banyak sumber yang mengungkap kehidupan Mata Hari, namun sosoknya tetap misterius. Sebut saja fakta seputar kematiannya. Konon hingga kini tidak jelas dimana ia dikuburkan.

Hal yang jelas, ia pernah hadir pada masa Perang Dunia Ke-I. Kala itu ia menjadi agen rahasia untuk dua negara sekaligus (double agent), Jerman dan Perancis.

Dikisahkan, Mata Hari lahir di Leeuwardeng, Belanda pada tahun 1876. Kala itu ia masih memakai naman Margaretha Geertruida. Pada usia 18 tahun ia menikah dengan seorang opsir Belanda bernama Rudolf John MacLeod.

Setelah itu ia pindah ke Jawa, untuk mengikuti suaminya yang bertugas di sana, tepatnya di Ambarawa. Ketika berada di Jawa inilah Mata Hari belajar menari untuk pertama kalinya.

Dari situlah ia kemudian banyak mementasakan tarian Jawa. Bahkan pada periode berikutnya ia juga mulai menarikan tarian-tarian erotik di hadapan banyak orang. Tentu saja hal ini membuat ia semakin dekat dengan banyak kalangan, termasuk petinggi militer. Tidak sedikit petinggi milter yang kemudian tidur bersamanya.

Lewat apa yang dilakukan oleh Mata Hari, novel ini telah melakukan sebuah protes dan sindiran keras atas sikap hipokrit pihak penguasa, termasuk kalangan rohaniawan. Simak saja ketika Mata Hari menyatakan kesetujuanya untuk menarik erotik di hadapan penguasa dan kalangan rohaniawan Katolik maupun Kristen (halaman 183-185).

Dengan tarian erotiknya Mata Hari ingin melakukan sebuah pembalikkan. Artinya, dalam kondisi kultural yang menomorduakan perempuan, ia justru ingin menunjukkan bahwa pria dapat bertekuk-lutut di bawah daya tarik gerakan erotik tariannya, maupun dan gairah seksualitasnya.

Ini adalah sebuah simbol, meskipun secara kultural laki-laki lebih dominan ketimbang perempuan. Namun, di sisi lain--digambarkan melalui hubungan antara Mata Hari dengan pria yang berkencan dengannya--laki-laki adalah pihak yang justru dikuasai oleh perempuan.

Bahkan dengan caranya sendiri, Remy Syaldo, memperlihatkan bagaimana pria menjadi objek pelepas hasrat Mata Hari. Di sini terlihat bagaimana superioritas laki-laki seketika luntur tanpa perlawanan. Kelemahan leki-laki seakan ditelanjangi. Beginilah Remy Sylado mengkritik kultur patriarkal.

Sikap Mata Hari yang seakan membalaskan dendam kepada laki-laki bukan tanpa sebab. Hal itu terjadi karena sejak awal pernikahannya, ia sudah merasa ditindas oleh kekuasaan laki-laki, yakni dari suaminya sendiri. Ia menggambarkan suaminya sebagai sosok yang menakutkan, egois, dan gemar main perempuan.

Di sisi lain, Mata Hari, ditampilkan sebagai perempuan yang "melampaui" jamannya, dalam arti ia sanggup berpikir dan bertindak di luar kebiasaan. Bahkan secara terang-terangan ia menyatakan dirinya sebagai vrijdenker, atau pemikir bebas, yang karenanya ia mempertanyakan keberadaan Tuhan.

Novel ini dapat dikatakan sebuah reinterpretasi kisah Mata Hari di Indonesia. Penulis mengatakan demikian karena, hampir tiga perempat isi buku ini berisi perjalanan Mata Hari selama di Indonesia. Inilah yang membuat buku ini menarik bagi pembaca di Indonesia.***



Di Kutip Dari klik di sini



Semarang Riwayatmu Dulu



Judul: Kota Semarang dalam Kenangan
Penulis: Jongkie Tio Semarang memiliki riwayat yang cukup panjang. Jika kita telusuri, banyak kisah-kisah menarik untuk diikuti, terutama serbaneka cerita Semarang di masa lalu.

Seperti dikabarkan oleh literatur-literatur mengenai Semarang yang pernah terbit, kota yang kini menjadi Ibu Kota Jawa Tengah tersebut acap kali disebut sebagai kota pelabuhan. Hal ini disebabkan kota Semarang memang berdekatan dengan laut dan telah menjadi salah satu pintu masuk jalur perdagangan di Pulau Jawa.

Sebagai pintu perdagangan, tidak mengherankan jika kemudian Semarang menjadi sebuah "wilayah pertemuan" berbagai kebudayaan. Salah satu budaya yang berekembang di Semarang adalah kebudayaan Tiongohoa.

Hal ini dimahfumi karena di masa lalu, sekitar abad ke-17, banyak pedagang keturunan Tionghoa yang datang ke kota ini. Selain berdagang berbagai komoditi sehari-hari, mereka juga berdagang candu di kota itu. Perdagangan candu ini menjadi masalah tersendiri yang dihadapi oleh pemerintah Hindia Belanda yang berkuasa saat itu.

Jejak kehadiran Tionghoa yang masih tersisa hingga kini, misalnya saja masih terdapatnya dusun atau pemukiman orang-orang keturunan Tionghoa di antero Kota Semarang, seperti seperti Gang Besen, Gang Tengah dan Gang Gambiran.

Selain itu, di Semarang banyak didapati tempat pemujaan Klenteng yang digunakan oleh masyarakat keturunan Tionghoa. Menurut cerita, bahkan ada beberapa Klenteng yang sengaja mendatangkan patung dewa dari Tiongkok.

Semua cerita mengenai Semarang tersebut digambarkan secara baik dalam buku ini. Namun sayangnya, buku ini tidak membahas hal-hal tersebut lebih dalam. Literatur yang digunakan untuk membantu penyusunan buku ini pun tidak disebutkan. Tampaknya buku ini hanya ditulis berdasarkan ingatan dan pengetahuan si penulisnya.

Foto-foto yang disertai keterangan dalam buku ini memang menarik, namun pembaca hanya menerima penggalan cerita saja, tanpa mengetahuinya lebih dalam. Akan lebih baik jika kisa-kisah mengenai apa yang terlihat di dalam foto, diceritakan lebih banyak sehingga pembaca dapat mengenal Semarang tempo dulu dengan lebih dalam. Dengan begitu buku ini menjadi medium "pengembaraan" ke masa lampau yang lebih komprehensif. ***

Salah satu foto yang terdapat dalam buku Semarang Dalam Kenangan Wayang Potehi, jejak kultural Tionghoa

Di Kutip Dari klik di sini



Meluruskan Persoalan Mendasar Pesantren

Judul: Bilik-bilik Pesantren, Sebuah Potret Perjalanan
Penulis: Nurcholish Madjid
Penerbit: Dian Rakyat dan Paramadina
Terbit: 2010
Tebal: xxx + 162 halaman
Harga: Rp. 45.000

Pesantren sebagai salah satu pilar pendidikan modern Islam, tengah menghadapi tantangan yang tidak ringan. Ia harus dapat menjawab berbagai persoalan bangsa di tengah kemajuan di berbagai bidang yang tidak mungkin dihindari.

Itu sebabnya pesantaren, yang selama ini memiliki stigma sebagai lembaga pendidikan yang konservatif dan cenderung anti-modern, harus segera melakukan perbaikan. Hal tersebut bertujuan agar langkah pesantren dapat sederap dengan kemajuan, dengan tetap menjadi benteng nilai relijius.
Buku yang ditulis oleh Nurcholish Madjid ini ingin mengungkapkan masalah-masalah pokok dunia pesantren di Indonesia. Masalah-masalah itulah yang menurut Nurcholish menjadikan pesantren sulit untuk menemukan solusi masalah-masalah bangsa.

Salah satu masalah pokok yang diungkapkan Nurcholish adalah lemahnya visi dan tujuan pendirian pesanteran. Menurutnya, banyak pesantren yang gagal merumuskan tujuan dan visinya secara jelas. Ini ditambah dengan kegagalan dalam menuangkan visi tersebut pada tahapan rencana kerja ataupun program.
Akibatnya, sebuah pesantren hanya berkembang sesuai dengan kepribadian pendirinya, dengan dibantu oleh kiai maupuin pembantu-pembantulainnya. Tidak mengherankan jika semangat pesantren adalah semangat pendirinya.

Bagi Nurcholish, keterbatasan fisik dan mental pendiri pensantren itu dapat membuat pesantren menjadi kurang responsif terhadap perkembangan-perkembangan yang terjadi dalam masyarakat.
Apabila hal ini tidak selesaikan, maka, pesantren akan dianggap tidak mampu lagi menghadapai tantangan-tantangan yang dibawa oleh kemajuan jaman dan modernisasi. Kekurangan inilah yang membuat terjadinya kesenjangan antara pesantren dengan "dunia luar".

Oleh sebab itu perubahan harus dilakukan, dalam arti mengejar ketinggalan yang telah. Namun demikian, Nurcholish mengingatkan sejumlah hal mengenai hal ini, misalnya perubahan tersebut harus dimulai dari "orang dalam" pesantren itu sendiri.

Kedua, perubahan sering tidak dapat dilakukan secara radikal. Akibtanya, perubahan dilakukan secara perlahan. Ini dapat dimulai dari perubahan kurikulum di pesantren, yang tidak hanya mengemban fungsi relijius tetapi juga keilmuan.

Inilah yang diistilahkan oleh Nurcholish sebagai amanat ganda pesantren, yakni amanat agama serta amanat keilmuan. Keduanya harus dilakukan secara serentak dan proporsional sehingga tercapai keseimbangan yang diharapkan.

Untuk itulah buku ini, seperti yang ditulis oleh Prof Malik Fajar dalam buku ini, menawarkan sebuah sintesa antara perguruan tinggi dan pesantren (hal. 121). Sintesa keduanya diharapkan dapat menjawab kebutuhan dua jenis pendidikan tersebut, yakni perguruan tinggi yang rasional namun miskin kedalaman spiritual, dan pesantren yang kuat dengan tradisi keagamaan, namun tertatih-tatih di bidang keilmuan.

Dengan membaca buku ini, pembaca dapat diajak untuk kembali memikirkan dan membenahi pesantren. Dengan upaya ini pesantren tidak lagi dianggap sebagi pilar pendidikan yang "nomor dua", tetapi justru menjadi ujung tombak pemberdayaan masyarakat.
Dengan begitu pesantren dapat diharapkan untuk memberikan solusi atas masalah-masalah yang seakan tidak berhenti menghujani bangsa Indonesia.***



Di Kutip Dari klik di sini



Seruan Sikap Toleransi


Judul : Maluku Kobaran Cintaku
Penulis : Ratna Sarumpaet
Penerbit : Komodo Books
Terbit : I, Desember 2010
Halaman : 512 halaman
Harga : Rp. 72.000 Aksi kekerasan atas nama agama kembali terjadi. Hal ini memperlihatkan bahwa bangsa Indonesia tengah menghadapi tantangan kebangsaan yang besar. Persoalannya, apa akar persoalan dari semua peristiwa tersebut.

Harus diakui, akar masalahnya tidak tunggal, melainkan multidimensional. Tidak mudah untuk mengambinghitamkan satu faktor saja. Setiap faktor dapat saja terkait dengan faktor-faktor lainnya.

Novel Maluku Kobaran Cintaku yang ditulis oleh Ratna Sarumpaet ini memperlihatkan bahwa pertikaian antar umat beragama, sering kali bersumber pada faktor eksternal. Faktor-faktor itu tidak insidental, melainkan sudah menahun.

Salah satu faktor eksternal yang diidentifikasi oleh Ratna dalam novel ini adalah kebijakan pemerintah yang dirasa tidak adil. Salah satunya adalah undang-undang kelautan yang dianggap tidak berpihak kepada rakyat Maluku.

Di samping itu, Ratna juga memperlihatkan bahwa kekerasan yang kian melebar di Maluku tidak lepas dari kepentingan banyak pihak. Ada kekuatan yang dengan sengaja terus membakar suasana untuk keuntungan pihat tertentu.

Bagi Ratna, tidak masuk akal bila saling pengertian antar umat beragama yang sudah dibina sejak lama di Maluku dapat hancur dalam waktu yang sangat singkat. Hal ini tidak akan terjadi apabila tidak ada usaha atau skenario yang sengaja disusun untuk memanaskan suasana di sana.

Itu sebabnya Ratna tidak putus-putusnya mengingatkan adanya pihak-pihak yang "bermain" di belakang setiap gesekan yang timbul dalam masyarakat. Oleh sebab itu, penting untuk menyaring setiap isu yang berkembang dalam masyarakat.

Lebih dari itu semua, Ratna menyerukan pentingnya sikap toleransi antar umat beragama. Sejak bab pertama, ia secara tegas menyerukan hal ini. Baginya, toleransi adalah kunci perdamaian.

Di Maluku sendiri komunikasi yang baik, hubungan timbal balik yang kuat antar umat beragama sebenarnya sudah lama terjadi. Bahkan tokoh-tokoh agama, baik dari kalangan Kristen maupun Islam, digambarkan memiliki toleransi yang tinggi. Mereka pun menjalin dialog ketika terjadi krisis kepercayaan antar umat. Sayangnya, hal itu tidak mengalir ke tingkat bawah.

Sejumlah tokoh muda--demikian dikisahkan dalam novel ini--dengan latar belakang agama yang berbeda-beda kemudian muncul. Mereka berusaha membangun kembali kepercayaan antar umat beragama. Mereka mendirikan organisasi independen yang berusaha mengembalikan perdamaian di Maluku.

Anak-anak muda tersebut sadar, jika keadaan tidak segera dibenahi, maka kehancuran yang lebih hebat bakal terjadi. Sayangnya cita-cita luhur mereka dihadang oleh berbagai konflik yang pelik.

Lewat novel ini Ratna juga ingin mengatakan bahwa permusuhan antar umat beragama hanya dapat direhabilitasi dengan membangun kembali semangat saling pengertian. Hal itu tidak hanya tugas pemerintah, namun juga tokoh-tokoh agama.

Di sini tokoh agama harus dapat mengembangkan sebuah dakwah yang menyejukkan dan membawa kebaikan bagi seluruh umat manusia. Sudah seharusnya tidak ada lagi tempat di negeri ini bagi mereka yang memonopoli kebenaran.***



Di Kutip Dari klik di sini



Membuka Selubung Dominasi




Judul: Dominasi Penuh Muslihat, Akar Kekerasan dan Diskrimnasi
Penulis: Haryatmoko
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: xv + 294 halaman
Harga: Rp. 65.000Selalu ada kekuasaan di balik realitas yang melingkupi sebuah masyarakat. Sistem kemasyarakatan hingga keketatan sebuah ideologi, selalu dikonstruksi oleh "kekuasaan" tertentu. "Kekuasaan" itulah yang disebut sebagai dominasi.
Pada bagian awal buku yang ditulis oleh Haryatmoko ini, disampaikan sejumlah gagasan yang dapat membantu pembaca untuk mulai menyadari bagaimana banyak segi dalam kehidupan telah dimistifikasi oleh kekuatan tertentu.
Gagasan-gagasan tersebut berasal dari para pemikir seperti Pierre Bourdieu, Jean Baudrillard, Jurgen Habermas, Michel Foucault, hingga Jacques Derrida, yang terkenal selalu "menaruh curiga" atas kebenaran-kebenaran yang sudah terlanjur diterima secara umum.
Michel Foucault misalnya, mempertanyakan dominasi yang menciptakan makna tunggal atas seks. Foucault yang memunculkan gagasan arkeologi pengetahuan (the archeology of knowledge), yakin bahwa ada kepentingan di balik sebuah pengetahuan dalam masyarakat.
Hal yang sama juga terdapat dalam pemkiran Jurgen Habermas, salah seorang pemikiran aliran kritis Mazhab Frankfurt. Pemikiran Habermas, demikian ditulis Haryatmoko, ingin membebaskan manusia dari rasionalitas intrumental, yang kental dengan logika dan formalisme dalam menentukan kebenaran.
Selain itu, Haryatmoko juga melihat ada sejumlah dominasi utama yang kerap menjadi akar kekerasan dalam masyarakat, yakni dominasi agama, dominasi wacana, dan dominasi uang yang mengarah kepada konsumerisme.
Menurut Haryatmoko, dengan mengutip Nelson Pallmeyer, dominasi agama kerap memicu kekerasan. Kekerasan relijius tidak hanya persoalan distorsi penafsiran teks, tetapi mengakar pada anggapan bahwa Tuhan pun berhak melakukan pembalasan ataupun kekerasan sebagai bagian dari kesucianNya.
Kemudian dominasi wacana. Menurut Haryatmoko, dominasi wacana adalah hal yang paling sulit diatasi, terutama menyangkut kekerasan simbolik. Dominasi ini beroperasi pada tataran bahasa, cara kerja, dan cara bertindak (hal. 128).
Selain itu, dampak dominasi wacana cenderung halus dan tidak terasa. Parahnya, dominasi ini diakui dan diterima oleh si korban. Contoh jelas dominasi wacana adalah, posisi subordinasi perempuan.
Dominasi lain yang kental dalam masyarakat kontemporer adalah uang. Dalam masyarakat kontemporer, uang menjadi ukuran untuk menentukan berbagai hal. Lalu konsumsi tidak lagi berdasarkan kebutuhan, melainkan tanda.
Di sini, konsumen membeli barang bukan karena manfaat, tetapi dalam kaitan pemaknaan seluruh obyek (hal. 227). Bahkan konsumsi bukan lagi untuk memenuhi kebutuhan dasar, tetapi karena tekanan psikologis dan sosial.
Buku ini menarik karena dengan memahami isinya, pembaca dapat menjadi lebih kritis untuk melihat dominasi di balik sistem tertentu, yang dengannya makna kebenaran tidak lagi tunggal.
Seperti lazimnya membaca buku-buku beraroma filsafat yang kuat, untuk memahami buku ini, pembaca harus mau membuka cakrawala pemikiran secara lebih luas, dan memiliki usaha lebih untuk memahami setiap terminologi serta ide kunci yang dituangkan di dalamnya.***
(Dimuat di Koran Jakarta edisi 14 Juli 2010)

Di Kutip Dari klik di sini



Mohamad Hatta di Balik Kemerdekaan

Judul : Untuk Negeriku (Autobiografi Mohammad Hatta)

Penulis : Mohammad Hatta

Penerbit : Penerbit Buku kompas

Terbit : I, Januari 2011

Harga : Rp.125.000.

Pemikiran ekonomi maupun politik Mohammad Hatta telah ikut menentukan perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Jika itu semua berasal dari sebuah situasi mental dan kultural tertentu, maka buku inilah yang dapat menggambarkan bagaimana pemikiran itu terbentuk.

Dari buku yang merupakan autobiografi Mohammad Hatta ini, pembaca dapat melihat bahwa karakter Hatta ternyata tidak lepas dari latar belakang budaya, keluarga, pendidikan, dan pengalaman politiknya.

Latar pendidikan Hatta yang bercorak Barat, latar belakang budaya yang Islami dan menghargai pendidikan, telah membantu Hatta yang selalu ingin kritis terhadap apa yang dilihatnya. Jika memang hal itu memerlukan perbaaikan, maka itulah yang harus dilakukan tanpa kompromi.

Untuk Negeriku dibagi menjadi tiga buah judul buku yakni Buktitinggi-Rotterdam Lewat Betawi, Berjuang dan Dibuang, serta Menuju Gerbang Kemerdekaan. Masing-masing buku menandai perioode dalam kehidupan Hatta.

Buktitinggi-Rotteredam Lewat Betawi (buku 1) mengisahkan masa kecil Hatta di Padang. Dalam buku ini Hatta juga menceritakan pengalamannya ketika melanjutkan pendidikannya di Batavia, serta bagaimana ia mulai memasuki dunia pergerakan mahasiswa di Belanda.

Buku kedua, Berjuang dan Dibuang (buku 2), berisi kisah Hatta ketika ia sudah kembali ke Indonesia. Di sinilah Hatta menghadapi berbagai rintangan dalam perjuangan menuju kemerdekaan. Pada periode waktu inilah ia bertemu dengan Soekarno.

Sedangkan dalam buku Menuju Gerbang Kemerdekaan (buku 3), Hatta mengisahkan berbagai peristiwa yang mewarnai saat-saat menjelang kemerdekaan Republik Indonesia. Di sini pembaca dapat melihat bagaimana para pendiri bangsa berada dalam situasi yang tidak mudah membuat pernyataan kemerdekaan. Perbedaan pendapat antara Syahrir, Hatta dan Soekarno adalah penyebabnya.

Sebagai sebuah autobiografi seseorang yang ikut membidani kelahiran sebuah bangsa yang merdeka, buku ini menjadi sebuah sumber sejarah yang sangat penting. Sejumlah peristiwa yang sebelumnya menjadi kontroversi, akan memperoleh perspektif lain.

Sebut saja peritiwa penculikan Soekarno yang dilakukan sekelompok pemuda. Apakah benar hal itu dipicu oleh keengganan Soekarno dan Hatta untuk menunda-nunda kemerdekaan? Jawabanya, Soekarno dan Hatta justru memiliki alasan yang rasional. Mereka ingin proklamasi kemerdekaan dilakukan oleh panitia yang sudah dibentuk yakni Panitia Persiapan Kemerdekaan Indoenesia.

Kala itu Soekarno merasa tidak memiliki hak untuk mengatasnamakan rakyat Indonesia. Tindakan yang ia lakukan harus dengan persetujuan panitia yang diketuainya sendiri. Inilah yang menyulut kenekatan para pemuda membawa Soekarno dan Hatta ke Regasdengklok.

Dari buku ini kita dapat melihat bagaimana Hatta dan orang-orang yang terlibat dalam usaha kemerdekaan Indonesia, adalah orang-orang yang berjuang tanpa pamrih. Apa yang mereka lakukan adalah untuk mengakhiri penindasan yang dilakukan oleh kaum imperialis. Tidak sedikit pun terbesit keinginan untuk menduduki jabatan tertentu. Inilah yang harus dijadikan contoh oleh para calon pemimpin bangsa sekarang ini.****



Di Kutip Dari klik di sini